Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam

Posted on
Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam

Sejak masuk ke Indonesia pada abad ke-7, agama Islam terus berkembang di Indonesia. Bahkan mampu eksis bersama kepercayaan terdahulu. Perkembangan pesat Islam di Indonesia tak bisa dihindarkan dari peran tokoh pemuka agama salah satunya yang berperan besar di Pulau Jawa adalah Walisongo.

Berkat ajaran yang ringan dan mengombinasikan budaya masyarakat pada saat itu, masyarakat mudah menerima Islam sebagai kepercayaan mereka. Islam memang merupakan agama yang fleksibel dan kekeluargaan, sehingga sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia pada masa tersebut.

Berkat adanya pemuka-pemuka agama tersebut agama Islam terus berkembang hingga sekarang, bahkan menjadi agama terbesar di Indonesia dengan persentase 87,2 %.

Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin, di mana setiap ajarannya memerhatikan lingkungan sekitar, tidak bersikap individualis. Perkembangan Islam di Indonesia tidak hanya masalah akhirat saja, tetapi juga masalah duniawi.

Islam adalah agama yang begitu lengkap. Sedari sebelum lahir ke dunia hingga di akhirat pun semuanya telah diatur dan diberi petunjuk. Telah diberikan pegangan hidup bagi manusia, yakni kitab suci Al-Quran yang terjaga kemurniannya hingga hari kiamat nanti.

Salah satu urusan duniawi yang diberikan petunjuk oleh Islam adalah bidang ekonomi. Ekonomi yang dimaksud Islam adalah ekonomi yang didasarkan pada ajaran Allah Swt. yang saling memberikan keuntungan dan tidak merugikan pihak lain.

Awal Pemikiran Ekonomi Islam

Sebenarnya kegiatan perekonomian telah berlangsung sejak lama, bahkan sebelum ajaran Islam diturunkan. Sejarah pemikiran ekonomi Islam baru ada semenjak Allah Swt. menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi Muhammad saw. Melalui wahyu tersebut Nabi Muhammad saw. mengajarkan kepada seluruh umat agar menerapkan ajaran Islam saat melakukan kegiatan perekonomian.

Pada masa itu Nabi Muhammad SAW pun melakukan kegiatan ekonomi berupa berdagang. Bahkan Nabi Muhammad sangat sukses dalam menjalankan usahanya. Mengapa demikian? Hal ini bukan keberuntungan semata. Nabi Muhammad saw. menerapkan ajaran kebaikan Islam berupa sifat yang jujur, tidak riba’, selalu beramal, dan menjalankan perintah Allah Swt.

Nabi Muhammad saw. selalu mengatakan dengan jujur kondisi barang yang diperjualbelikan. Hingga karena kejujurannya tersebut Nabi Muhammad saw. menyandang gelar Al-Amin yang artinya dapat dipercaya.

Nabi Muhammad saw. juga mengajarkan untuk tidak mempermainkan timbangan. Sebab, hal tersebut sangat merugikan pembeli dan sangat dilarang oleh Islam. Bagi pedagang yang mempermainkan timbangan keuntungan yang diperolehnya menjadi haram dan tidak berkah.

Kemudian bagi para pedagang juga tidak diperkenankan untuk mengambil keuntungan yang terlalu banyak. Hal tersebut tergolong riba’. Apalagi sampai menindas orang yang membutuhkan.

Perkembangan Ekonomi Islam di Nusantara

Melalui para pedagang Arab, Cina, Persia, dan Gujarat (India) agama Islam masuk ke Indonesia. Entah mana yang berperan terlebih dahulu, tetapi yang jelas mereka memiliki peranan besar dalam masuknya Islam di Indonesia.

Masa kejayaan Islam adalah saat Walisongo melakukan dakwah ke pelosok-pelosok di Pulau Jawa. Mereka menerapkan strategi dakwah untuk mengombinasikan budaya yang ada dengan ajaran Islam agar mudah diterima. Selain itu, mereka juga mendekati para raja agar dapat memengaruhi rakyatnya memeluk agama Islam. Strategi tersebut berhasil sehingga banyak kerajaan Islam yang berdiri di Nusantara.

Sebelumnya perekonomian juga telah berlangsung sejak Islam belum masuk ke Indonesia. Namun, semenjak agama Islam hadir, perekonomian lebih tertata dengan ajaran Islam. Pemuka agama telah mengajarkan mana yang baik dan mana yang buruk sesuai perintah Allah Swt.

Sejarah pemikiran ekonomi Islam di Nusantara telah berlangsung sejak dulu dan terus berkembang hingga sekarang. Lalu, bagaimana sejarah ekonomi Islam yang telah ada sejak dulu?

Periode Perkembangan Ekonomi Islam

Ekonomi Islam selalu berkembang setiap saat. Dimulai dari masa Nabi Muhammad saw. hingga sekarang. Perkembangan ekonomi Islam terbagi menjadi 3 periode, yakni:

1. Masa Ekonomi Islam Klasik.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, pada masa Nabi Muhammad saw. perekonomian dengan prinsip dan ajaran Islam telah dilakukan. Nabi Muhammad saw. mengajarkan untuk menerapkan kejujuran dalam berdagang. Dengan begitu pelanggan akan puas dan percaya terhadap kita.

Masa ekonomi Islam klasik mencapai puncak keemasan pada tahun 600 M hingga 1300 M, saat agama Islam sedang berjaya pada masa tersebut. Hingga sekarang teori ekonomi Islam klasik terus dikembangkan hingga sekarang ini.

Tokoh-tokoh yang turut andil dalam masa ekonomi Islam klasik sudah pasti Nabi Muhammad saw. bersama para sahabatnya. Selain itu ada pula Abu Yusuf (731-798 M) yang berperan dalam pemikiran perpajakan dunia. Ada pula Ibnu Taimiyah (1263-1328 M) yang mengarang Buku Majmu Fatawa tentang pasar dan harga.

2. Masa Stagnasi.

Pengertian stagnasi adalah masa yang tidak ada perkembangan bisa dibilang mandek bahkan dapat mengalami kemunduran. Ekonomi Islam mengalami kemunduran pada abad ke-19 hingga abad ke-20.

Hal ini dikarenakan pada masa tersebut banyak terjadi penjajahan di negara Islam. Sehingga, penyebaran ajaran Islam pun ikut terhambat. Selain itu, pada masa tersebut hasil penelitian dan karya ilmuwan muslim tidak terlalu mendapat perhatian.

3. Masa Resurgensi.

Masa resurgensi ini adalah masa kebangkitan ekonomi Islam setelah mengalami kemunduran beberapa saat. Perkembangan ekonomi Islam mulai menampakkan geliatnya pada abad ke-20 Masehi hingga kini.

Keadaan yang kondusif membuat ilmu ekonomi Islam dapat dipelajari lebih baik dan dapat dikembangkan. Menghadapi era sekarang yang semakin kompleks dengan ideologi negara, sistem pemerintahan lainnya. Ekonomi Islam tidak sulit untuk beradaptasi. Sebab sejatinya agama Islam adalah agama yang sangat mudah menyesuaikan dengan keadaan dan waktu.

Ekonomi Islam dalam masa saat ini biasa disebut dengan ekonomi syariah. Bidang studi ekonomi syariah telah diajarkan di berbagai institusi pendidikan termasuk bangku perkuliahan. Banyak perguruan tinggi baik negeri maupun swasta telah memasukkan ekonomi syariah sebagai program studinya.

Selain itu, dunia perbankan syariah turut pula mengalami peningkatan pesat. Ini dikarenakan prinsip ekonomi syariah yang menguntungkan semua pihak dan tidak ada unsur yang merugikan. Di samping itu, ekonomi syariah juga bebas dari hal-hal haram seperti riba’.

Saat ini Indonesia telah memiliki bank syariahnya sendiri yakni BSI (Bank Syariah Indonesia). BSI berasal dari penggabungan atau mergerisasi 3 bank syariah BUMN yakni BRI syariah, BNI syariah, dan Mandiri Syariah. Dengan begitu BSI memiliki permodalan yang besar dan dapat menjangkau masyarakat luas.

Itulah proses sejarah pemikiran ekonomi Islam yang terus berkembang hingga sekarang. Prinsip ekonomi Islam sejatinya memiliki kelebihan dibanding prinsip ekonomi pada biasanya. Prinsip ekonomi Islam lebih mengutamakan kekeluargaan dan gotong royong untuk membantu sesama. Bukan semata-mata hanya menguntungkan satu belah pihak.

Baca juga : Daftar Kerajaan Islam di Indonesia

Ekonomi Islam juga dikatakan sebagai ekonomi yang rahmatan lil alamin. Diridhoi Allah Swt. dan mengandung berbagai keberkahan. Semoga ekonomi Islam dapat berkembang menjadi lebih baik lagi kedepannya dan Islam semakin jaya. Tetap patuhi perintah Allah Swt. dan hindari larangan-Nya serta tingkatkan kualitas keimanan kita kepada-Nya.