Pakaian Adat Sulawesi Utara Lengkap dengan Gambar dan Penjelasannya

Posted on
baju adat sulawesi utara
@seni budayaku

Pakaian adat Sulawesi Utara memiliki corak yang beragam dan berbeda-beda, tergantung dari suku bangsa yang menempatinya. Provinsi Sulawesi Utara yang beribu kota Manado ini memiliki bermacam-macam budaya yang sayang untuk dilewatkan. Jika Anda sedang berada di Sulawesi Utara jangan lupa mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Hal itu karena, Anda dapat melihat sekaligus mengetahui peninggalan masyarakat Manado kala itu, seperti halnya di Parigi Tujuh.

Parigi tujuh kini dijadikan salah satu destinasi wisata di Sulawesi Utara. Arti dari Parigi itu sendiri ialah sumur. Sesuai namanya, tempat ini memiliki 7 sumber mata air yang mengalir dari sela-sela batuan besar. Konon katanya tempat ini tidak pernah kering meskipun musim kemarau. Satu lagi yang tidak boleh terlewatkan ialah mencicipi masakan khas Manado yang populer dengan sebutan tinutuan atau bubur Manado. Rasanya yang enak akan membuat siapa saja yang menyantapnya ingin dan ingin lagi.

Tidak cukup sampai itu saja, busana adatnya pun memiliki nama pakaian adat Manado masing-masing. Tentu sangat menarik untuk diketahui. Setidaknya ada empat suku yang mendiami wilayah Sulawesi Utara, yaitu suku Manado, suku Minahasa, suku Gorontalo, Suku Sangihe Talaud, dan suku Bolaang Mongondow. Setiap suku memiliki busana yang hampir sama, yang membedakan ialah aksesoris dan perlengkapan yang dikenakan. Seiring perkembangan zaman, baju adat Manado modern pun terus dikembangkan. Berikut beberapa ulasan terkait pakaian adat dari masing-masing suku yang ada.

Baju Adat Sulawesi Utara:

Pakaian Adat Minahasa

baju pernikahan minahasa
@mahligai indonesia

Pakaian adat Minahasa lazim dikenakan oleh masyarakat Minahasa. Pada umumnya busana adat hanya dipakai manakala ada Event tertentu, seperti pernikahan ataupun upacara penyambutan tamu, dan pesta adat lainnya. Pakaian adat Minahasa Sulawesi utara terbagi menjadi dua macam, yaitu:

Pakaian adat pernikahan Minahasa

Menikah tentu menjadi momen berharga yang tak terlupakan bukan? Ya, untuk mengukir momen sekali seumur hidup itu tentu setiap pasangan menginginkan sesuatu yang spesial. Salah satunya ialah dengan memilih busana pengantin yang tepat. Pada umumnya, masyarakat Indonesia lebih memilih untuk mengenakan pakaian adat pengantin di daerahnya. Hal itu dilakukan semata-mata untuk melestarikan kebudayaan yang ada sehingga tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

Dalam upacara pernikahan Minahasa, calon pengantin wanita mengenakan kebaya warna putih yang disebut model baju ikan duyung. Untuk bawahannya menggunakan kain sarung yang disulam membentuk motif sisik ikan berwarna putih. Tidak hanya motif ikan, tersedia pula motif burung, salimburung, model kaki seribu, dan motif Bunga yang lebih dikenal dengan sebutan Laborci-labirci. Pengantin wanita akan semakin memancarkan kecantikannya dengan adanya aksesoris tambahan, seperti konde atau sanggul dan mahkota atau kronci, Kalung leher atau kelana, anting, gelang, serta kalung mutiara atau simban sering kali dikenakan saat pernikahan berlangsung.

Lain halnya dengan busana wanita, busana pengantin pria bisa dibilang lebih simpel. Busana yang dikenakan ialah setelan jas tertutup dan celana panjang yang dikenal dengan sebutan busana tatutu. Tak lupa juga tambahkan selendang pinggang sekaligus sematkan topi atau porong. Semua bagian baju tatutu tersebut dihiasi dengan motif bunga padi sebagai ciri utamanya. Model baju adat Minahasa utara berlengan panjang tanpa mempunyai saku dan kerah leher.

Pakaian adat Tonaas Wangko dan Walian Wangko

Busana Tonaas Wangko memiliki corak baju berwarna hitam. Model pakaian berbentuk kemeja lengan panjang. Potongan baju lurus tanpa saku dan menggunakan kancing. Di bagian leher, ujung lengan, serta ujung baju bagian depan dihiasi dengan motif bunga padi. Selain itu juga dilengkapi topi berwarna merah dengan motif bercorak kuning keemasan.

Busana Walian Wangko terbagi menjadi dua macam, yakni untuk pria dan wanita. Walian Wangko pria didesain dengan memodifikasi busana Tonaas Wangko, yakni dengan potongan baju yang lebih panjang seperti jubah. Corak baju warna putih lengkap dengan topi porong nimiles. Topi ini dibentuk dengan melilitkan 2 kain yang berwarna merah hitam dan kuning emas. Kedua warna tersebut sebagai Pralambang penyatuan dua unsur yang berbeda, yaitu langit dan bumi, dunia dan alam baka.

Sedangkan untuk Walian Wangko wanita mengenakan kebaya panjang bercorak ungu atau putih. Baju didesain tanpa menggunakan kancing dan kerah. Sebagai penghias dikenakan pula selempang berwarna kuning, sanggul, dan kalung. Tak luput juga kain sarung batik sekaligus kronci sebagai mahkotanya. Kedua pakaian inilah yang hingga sekarang menjadi model dalam pembuatan berbagai macam pakaian adat di Sulawesi utara.

Baca juga: Kebudayaan Sulawesi Selatan

Pakaian Adat Gorontalo

pakaian adat gorontalo
@detik travel

Dahulu Gorontalo merupakan bagian dari provinsi Sulawesi Utara, namun sejak tanggal 22 Desember 2000 Gorontalo telah berdiri menjadi provinsi sendiri. Namun tidak ada salahnya bukan untuk kita mengenal pakaian adat yang ada di Gorontalo? Setidaknya ada dua jenis pakaian adat suku Gorontalo terutama untuk busana pengantin. Kedua busana tersebut dikenal dengan sebutan Mukuta dan Biliu.

Mukuta merupakan sebutan bagi baju pengantin pria. Terdiri dari setelan kemeja dan celana panjang. Sebagai pelengkap dikenakan beberapa aksesoris tambahan, seperti tudung Makuta sebagai penutup kepala, kalung bako, serta pasimeni. Sementara itu, Biliu merupakan busana pengantin untuk pengantin wanita. Busana ini terdiri dari baju kurung serta bawahan berwarna kuning. Untuk menambah kecantikan pengantin wanita, dikenakan pula aksesoris tambahan seperti tuhi-tuhi, buohu wulu wawu dehu, gelang pateda, baya lo boute sebagai ikat pinggang, dan hiasan lainnya.

Baca juga: Baju Adat Gorontalo

Pakaian Adat Sangihe Taulud

pakaian adat sangihe
@bajutradisionals

Busana adat bagi masyarakat suku Sangihe Taulud disebut Laku Tepu. Keunikan dari pakaian ini adalah bahannya yang terbuat dari serat kofo yang telah ditenun menggunakan kahuwang. Serat kofo berasal dari serat pohon pisang. Pada umumnya laku tepu berwarna terang dan mencolok seperti ungu, kuning, kuning tua, hijau, dan merah.

Busana laku tepu didesain mencapai tumit dengan lengan panjang. Agar semakin mencolok, ditambahkan beberapa aksesoris sebagai pelengkap. Diantaranya ialah Pa porong sebagai penutup kepala, kawihu sebagai rok berumbai, dan popehe. Popehe digunakan untuk mempercantik laku tepu yakni dengan cara mengikatkan kain ke pinggang sebelah kiri dengan ujung kain terurai ke bawah. Selain itu terdapat pula bandang sebagai selendang, boto pusinge untuk sanggul, dan sasusu boto sebagai tusuk konde untuk memperindah sanggul.

Pakaian Adat Bolaang Mongondow

baju adat bolaang mongondow
@situs budaya indonesia

Pakaian adat Sulawesi utara di daerah Bolaang Mongondow pasalnya merupakan perpaduan antara empat kerajaan yang dahulu mendiami daerah tersebut. Setidaknya ada tujuh busana adat di Bolaang Mongondow yang menunjukkan status sosial seseorang yaitu sebagai berikut:

  1. Pakaian bangsawan.
  2.  Busana Kohongian.
  3. Busana Simpal.
  4. Busana Krja Guha-ngea.
  5. Baju Rakyat Biasa.
  6. Gaun Pengantin Pria.
  7. Gaun Pengantin Wanita

Demikianlah ulasan terkait busana adat berbagai suku di Sulawesi Utara. Keberagaman pakaian adat Sulawesi utara sudah sepantasnya untuk kita lestarikan. Sudah bukan menjadi hal yang tabu jika warisan budaya yang demikian uniknya akan sirna dan menghilang jika tidak kita jaga. Baik di Sulawesi maupun daerah lain di Indonesia, pakaian adat menjadi petunjuk identitas kebudayaan yang melambangkan kekhasan suatu daerah.